Perempuan Boleh Kok Memilih Menjadi Wanita Karir Asal Penuhi 4 Syarat ini :

wanita karir

Viaberita.com – Sekarang ini banyak perempuan di Indonesia maupun di dunia pada umumnya untuk memilih menjadi wanita karir. Ada yang beralasan bahwa pendapatan dari suaminya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari dan ada pula yang menjadi wanita karir karena memang dia ingin berkarir dalam bidang pekerjaan yang sesuai passionnya. Bagaimakah aturan syariat islam memandang fenomena tersebut? Bolehkah perempuan memilih menjadi wanita karir ? Berikut Penjelasannya :

Kaum wanita dalam Islam memang tidak memiliki banyak peluang dan kesempatan untuk tampil dipermukaan sebagaimana lazimnya kaum laki-laki. Dalam urusan ekonomi kaum wanita tidak dituntut keluar rumah untuk mencari nafkah. Dalam masalah ibadah, kaum perempuan juga tidak diwajibkan haji walaupun merupakan rukun islam, apabila tidak disertai dengan mahramnya.

Kendati demikian bukan berarti perempuan tidak memiliki akses terbuka untuk memanfaatkan potensinya, bahkan perempuan merupakan ikon terpenting dan jendela kehidupan manusia. Kaum wanita adalah pahlawan di balik layar, dari rahim merekalah generasi bangsa ini dilahirkan, hanya saja kaum perempuan memiliki ruang yang tidak sama dengan kaum laki-laki. Perbedaan ini dimaksudkan agar wanita berada dalam ruang yang selaras dengan karakternya. Bukankah keadilan itu tidak harus sama?.

Ketika terjadi benturan antara profesi wanita sebagai wanita karir dan sebagai ibu rumah tangga, maka yang harus dilakukan oleh seorang wanita adalah mengambil langkah paling tepat yakni memprioritaskan yang paling maslahat baik bagi dirinya lebih-lebih bagi keluarganya. Dan yang paling maslahat itu adalah menunaikan tugas dan kewajiban sebagai istri yang berupa melayani suami, memberikan kebahagiaan kepadanya, mendidik anak-anaknya agar menjadi anak saleh.

Alasannya, karena kemaslahatan keluarga merupakan bagian dari kemaslahatan masyarakat. Sebab, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun kondisi sebuah masyarakat sangat bergantung pada kondisi keluarga. Jika keluarga rusak, maka masyarakat rusak, begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu, Islam menetapkan bahwa pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga dibebankan kepada seorang suami selaku presiden rumah tangga sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an:

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.” (QS. Al-Baqarah ;233).

Apabila situasi dan kondisi rumah rumah tangga memang menuntut seorang wanita harus bekerja, maka setidaknya ada 4 Syarat yang harus dipenuhi, yaitu :

1. Bahwa pekerjaan yang dikerjadaan memang bagian dari pekerjaan yang diizinkan oleh syariat, dan bukan juga pekerjaan yang bisa menimbulkan dosa lainnya.

Menjadi guru, dokter, bidan, pedagang, pebisnis, salon, penjahit, dan lain sebagainya adalah pekerjaan yang tidak terlarang, bahkan sebagian dari pekerjaan tersebut memang harusnya dikerjakan oleh perempuan.

Namun menjadi biduan orgen tunggal yang berjoget ria dihadapan laki-laki, bekerja di klub malam dengan menyuguhkan bir dan seterusnya, atau bahkan menjadi pekerja seks komersil semuanya merupakan pekerjaan yang memang dasarnya haram, maka disini haram melakukannya.

Atau bekerja sebagai sekretaris pribadi yang pekerjaannya kadang membuat dia ‘berduaan’ dengan bosnya, dan ini dinilai sebagai pekerjaan yang bisa membuat pelakunya berbuat zina, atau mesum lainnya. Berduaan itu saja sudah dinilai bahaya apalagi jika terjadi hal-hal lainnya.

2. Memperhatikan adab-adab keluar rumah, mulai dari cara berpakaian hingga berprilaku.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya” (QS. An-Nur: 31)

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik” (QS. Al-Ahdzab: 32)

3. Mendapat izin orang tua atau suami

Karena walau bagaimanapun kewajiban anak tetap harus direstui oleh orang tua, jangan sampai berkarirnya mereka justru mendapat penolakan dari orang tuanya sendiri. Pun begitu dengan perempuan yang sudah bersuami, kiranya izin suami sudah harus dikantongi terlebih dahulu sebelum melangkahkan kaki keluar rumah.

4. Tidak mengabaikan kewajiban asasi lainnya.

Jangan sampai karena berkarir diluar lalu pekerjaan mengurus suami dan memperhatikannya terabaikan, juga mendidik anak-anak di rumah yang memang membutuhkan perhatian dari ibu dan kasih sayangnya.

Tidak mudah untuk memenuhi syarat-syarat di atas, namun seperti itulah aturannya, bahwa kehidupan ini tidak dijalankan dengan semaunya saja, tanpa memperhatikan bagaimana Allah menginginkan cara kita hidup.

Jika syarat-syarat tersebut belum terpenuhi, maka berkarir di rumah tentunya menjadi pilihan tanpa harus merasa bahwa bekerja diluar sana lebih membahagiakan. Menemani suami, dan mendidik anak-anak menjadi generasi terbaik adalah lebih utama, terlebih jika kebutuhan hidup harian sudah sangat terpenuhi.

You must be logged in to post a comment Login