Hukum dan Tata Cara Menepuk Bahu Saat Berjamaah

Viaberita.com, Jakarata – Menepuk bahu orang yang sedang solat adalah sebuah tanda isyarat bahwa kita hendak mengajak shalat berjamaah. Adapun yang ditepuk bahunya akan menjadi imam sedangkan yang menepuk bahu akan menjadi makmum.

Hal ini sudah kering kita saksikan di lingkungan masyarakat, baik itu di masjid dekat rumah sendiri atau di masjid kampung orang lain.

Namun, apakah menepuk bahu ketika ingin bermakmum itu ada tuntutanya dalam islam, sejauh ini belum ada keterangan yang mengharuskan atau menganjurkan hal tersebut.

Berdasarkan hadist yang kami kutip dari kostultasi syariah, mungkin bisa membantu memperjelas tentang hukum menepuk bahu untuk bermakmum.

Dari Ibnu Abbas ra, beliau mengatakan, “Pada suatu malam, saya menginap di rumah bibiku Maimunah, di Saya shalat bersama Rasulullah Saw. suatu malam. Setelah larut malam, Nabi Saw bangun dan berwudhu dari air yang terdapat dalam bejana yang menggantung, lalu beliau shalat. Akupun berwudhu seperti wudhu beliau, dan langsung menuju beliau dan aku berdiri di sebelah kiri beliau. Lalu beliau memindahkanku ke sebelah kanan beliau”. (HR. Bukhari 138).

Perlu diketahui Maimunah adalah salah satu istri dari Rasulullah Saw sekaligus bibi Ibnu Abbas dari ibunya. Saat Rasulullah Saw memberikan jatah malam di Maimunah, Ibnu Abbas ikut bersama mereka. Dan ketika itu, Ibnu Abbas belum baligh.

Dalam hadis di atas, Ibnu Abbas ra datang ketika Rasulullah Saw telah dalam keadaan shalat. Ibnu Abbas ra tidak menepuk bahu Rasulullah, tetapi langsung berdiri di samping kiri Rasulullah. Karena posisinya yang salah, Ibnu Abbas dipindah ke posisi sebelah kanan.

Akan tetapi, menepuk bahu pun bisa menjadikan kemudharatan bagi yang ditepuk bahunya.
Pertama yang ditepuk bahunya bisa saja menganggap itu sebagai upaya penghipnotisan Kedua yang ditepuk bahunya bisa saja menderita sakit jantung. Dan ketiga, yang ditepuk bahunya bisa saja menganggap tepukan bahu itu sebagai isyarat adanya bahaya.

Berdasarkan hadist diatas maka kami simpulkan, tindakan menepuk bahu itu tidak ada anjurannya, malah menimbulkan madharat bagi seseorang yang ditepuk bahunya, karena bisa sampai membatalkan shalatnya. (JAR)