Kisah Inspiratif, Pelajaran dari Seorang Guru | Via Berita | Info Viral Indonesia

Kisah Inspiratif, Pelajaran dari Seorang Guru

GURU SUPER | Oleh Dr. H. Fuad Nashori

Viaberita.com, Inspiratif - Sueb Khariry. Guru SMP saya. Guru yang nyentrik. Guru yang waktu mengajar menggunakan buku karangannya sendiri sebagai bahan ajar, "Jokes and Riddles". Guru yang selalu saya ingat sepanjang hidup. Guru yang begitu penting dalam hidup saya. Guru super. Ada apa dengan Pak Sueb?

Suatu siang ada seorang pegawai TU SMP Islam Brawijaya Mojokerto (Jawa Timur) yang bilang ke saya bahwa saya dipanggil Pak Sueb di ruang guru. Saya deg-degan. Apa salah saya ya? Apa karena bahasa Inggris saya yang begitu jelek (Pak Sueb guru Bahasa Inggris)? Tapi kayaknya tidak. Kalau bahasa Inggris, banyak yang lebih jelek dari saya he he... Ya, menghibur dirilah.

Saya datang sendirian. Saya ketuk pintu dan mengucapkan salam. Dijawabnya salam saya.

Ditatapnya saya. Ditutupnya koran yang baru dibacanya, lalu diletakkan di meja kerjanya.

"Sini, Ad," sambutnya dengan senyuman. Saya pun salami si guru berambut ikal hampir sebahu ini. Dalam hati saya berkata: kelihatannya akan baik-baik saja.

"Aku senang kamu masuk koran," ungkapnya sambil menunjukkan foto dan wawancara koran Sinar Harapan kepadaku. "Kamu hebat." Wah, malah saya belum tahu kalau yang saya harapkan itu benar-benar terjadi. Masuk koran.

Sebenarnya hal simpel saja. Foto saya masuk koran setelah saya memenangkan undian dan dapat hadiah puluhan foto artis penyanyi. Nama saya masuk undian setelah saya mendukung lagu milik Iis Sugianto yang cengeng itu dalam tangga lagu he he. Sebagai pemenang, saya diwawancarai secara tertulis oleh pengelola koran yang berbasis di Jakarta itu. Hasil wawanara dan foto ditampilkan di Sinar Harapan Hari Minggu.

"Kamu nanti bisa masuk koran dengan foto yang lebih besar, namamu ditulis lebih besar, dan judul tulisannya kamu yang menentukan sendiri," katanya menyemangati saya.

"Ad, apa kamu suka nulis puisi atau cerpen?" tanya Pak Sueb sambil menatap saya.

"Saya menulis puisi, cerpen, macam-macam hal di buku harian pak," kata saya. "Setiap hari saya menulis lima hingga lima belas halaman di buku harian saya. Puisi, cerpen, tentu sebagian besar pengalaman harian saya."

"Kamu pilih tulisanmu. Kamu kirim ke radio, ke koran, ke majalah, ke mana-mana."

Ya, saya akan dan benar-benar melakukannya. Maka, saya mulai membaca banyak buku, majalah, koran, biar saya semakin berisi. Perpustakaan Kota Mojokerto jadi langganan saya. Biar tulisan saya lebih bermutu. Juga mencari peluang mana media yang bisa memuat tulisan-tulisan saya. Di samping koran dan majalah, saya juga mempelajari peluang di radio di kota tetangga, dalam hal ini Surabaya dan Gresik.

Hasilnya? Waktu SMP itu saya cukup dikenal di beberapa radio di Surabaya dan Gresik. Puisi saya sering dibacakan di radio. Kadang diberi ulasan. Salah satu ulasan diberikan kepada puisi saya yang berjudul Al Hambra, sebuah puisi yang mengulas duka istana kekhalifahan Islam di Spanyol yang kini tinggal kenangan. Tulisan artikel baru bisa menembus majalah psikologi Anda di Jakarta saat saya SMA. Saya masih ingat judulnya: Pokok dan Cabang Pohon. Sebuah tulisan yang mengulas cara mengajar guru yang suka ngelantur ke sana kemari dan melupakan pokok bahasannya. Tulisan saya merajalela di berbagai koran dan majalah saat saya mahasiswa. Buku pertama Psikologi Islami --yang alhamdulillah sampai kini masih beredar di pasar- terbit 1994 saat saya mahasiswa. Tahun 1994 bahkan saya dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestadi Istimewa Bidang Komunikasi setelah 3 tahun sebelumnya berturut-turut jadi juara 1 mahasiswa berprestasi komunikasi UGM. Kriterianya hanya produktivitas menulis, terutama di koran dan majalah.

Dengan membawa api dari Pak Sueb saya telah menulis lebih dari 1.000 artikel di koran/majalah/website, lebih dari 500 makalah ilmiah, lebih dari 150 artikel ilmiah, lebih dari 25 buku teks. Dengan membawa api dari Pak Sueb, menjadi penulis yang cukup produktif.
Saya berbahagia ketika saya bisa menceritakan pengalaman SMP saya ini ke beliau saat beliau datang ke Yogyakarta. Saat Pak Sueb mengantar putranya yang adalah wisudawan di Program Magister Psikologi Profesi UII, tempat saya ngajar.

Terima kasih, Pak Sueb, guru super yang sudah memantik potensi saya. Semoga guru-guru lain seperti Pak Sueb: menemukenali lalu memantik berkembangnya bakat-bakat siswa. Perhatian dan motivasi yang anda berikan ke mereka mungkin saja mampu melesatkan bakat-bakat mereka menjadi -meminjam istilah Abraham H Maslow- the growing tip (bunga-bunga yang tumbuh bermekaran).





Penulis adalah seorang Dosen di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Aktif sebagai penulis dan termasuk dosen yang giat mensosialisasikan Psikologi Islami.

Loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==