Alasan Gosip Itu Asyik dan Dilakukan Banyak Orang


Saat berkumpul dengan teman ataupun keluarga, sulit rasanya untuk menghindar dari membicarakan orang lain, baik itu selebriti, teman kerja, atau bahkan keluarga sendiri.

Kegiatan membicarakan orang lain atau bergosip ini sesungguhnya bukan kebiasaan yang tiba-tiba muncul, melainkan merupakan bagian dari proses evolusi manusia, bahkan memberikan manfaat pada manusia.

Antropolog percaya gosip adalah cara manusia untuk menjalin hubungan erat. Bahkan, gosip bisa digunakan untuk mengisolasi orang-orang yang dianggap berbeda dengan kelompoknya. Hal inilah yang menyebabkan gosip seringkali diasosiasikan dengan membicarakan hal buruk.

Stuart Fischoff, profesor emeritus psikologi media dari University of California, Los Angeles, mengatakan bahwa bergosip bisa memberikan kepuasaan tersendiri. Bagi sebagian orang, membicarakan orang lain bisa menjadi cara untuk melepaskan kejenuhan dari kegiatan sehari-hari.
Tak hanya itu, Fischoff juga mengatakan bahwa gosip bisa digunakan oleh orang-orang yang tidak pandai bergaul untuk menarik perhatian dan membantu mereka untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain.

“Jika mereka kesulitan berinteraksi dengan orang lain, gosip membuat mereka setidaknya memiliki hubungan sosial yang tidak mereka miliki sebelumnya,” kata Fischoff kepada Live Science.
Gosip

Tidak hanya untuk membicarakan orang lain, gosip ternyata bisa berguna untuk mempromosikan gaya hidup sehat dan menyebarkan informasi mengenai penyakit.

Amanda Hinnant dan Elizabeth Hendrickson dari University of Missouri menulis sebuah studi yang menyatakan, gosip mengenai selebriti bisa menjadi jalan untuk menyebarkan berita mengenai kesehatan atau penyakit.

Ketika ada selebriti yang menderita penyakit tertentu, maka masyarakat akan ramai-ramai membicarakan penyakit tersebut, bahkan memeriksakan diri untuk memastikan diri mereka tidak menderita penyakit yang sama.

Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh dr. Yuda Turana, ketua Indonesian Society of Hypertension. Saat diwawancarai oleh kumparanSAINS beberapa waktu lalu, Yuda mengatakan selebriti memiliki kekuatan untuk menciptakan fenomena medis baru.

Misalnya, ketika seorang selebriti berobat ke satu tempat, maka akan banyak yang mengikuti ke tempat itu. Begitu juga ketika ada selebriti yang menderita suatu penyakit, maka secara tiba-tiba banyak orang yang menanyakan mengenai penyakit tersebut.

dr. Yuda Turana.
Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari China menunjukkan bagaimana gosip bisa mempengaruhi otak manusia.

Sebanyak 17 relawan diminta untuk mendengarkan gosip tentang diri mereka sendiri, mengenai teman mereka, mengenai teman mereka, dan mengenai selebriti, baik itu gosip yang positif maupun negatif.

Ketika ditanya, para relawan menjawab mereka lebih ingin mendengar berita baik tentang diri mereka dan berita buruk tentang orang lain.

Dan ketika mereka mendengar berita buruk mengenai orang lain, nukleus kaudatus mereka, bagian otak yang berhubungan dengan kesenangan, bereaksi cukup kuat ketika mendengar berita negatif tentang orang lain. Bahkan reaksinya lebih kuat ketika mendengar berita buruk mengenai selebriti daripada mengenai teman sendiri.

Menurut Peggy Drexler, Ph.D, psikolog dari Weill Medical College, Cornell University, gosip akan muncul di mana saja. “Di mana ada orang berkumpul, di situ ada gosip,” kata Drexler kepada Psychology Today.

Karena itu, untuk menghindari menjadi subjek gosip ataupun timbul masalah karena membicarakan orang lain, Drexler mengatakan kita harus selalu berhati-hati dan mawas diri, dan berpikirlah bahwa apa pun yang kita katakan atau lakukan, bisa menjadi senjata untuk menyerang diri kita suatu saat.

Sumber : Kumparan.com