Lewat Buku, Maudy Ayunda Curhat Pengalaman Hidup


Sukses dikenal masyarakat sebagai penyanyi dan pemain film tak membuat Maudy Ayunda berpuas diri. Kini, Maudy mencoba ranah baru di dunia tulis.

Dilansri Sindonews, Maudy merilis karya buku perdananya yang diberi judul Dear Tomorrow. Buku karya gadis pemilik lengkap Ayunda Faza Maudya ini ditulis full dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Bentang Pustaka.

Buku ini berisikan sekumpulan esai pendek mengenai pemikiran Maudy tentang hidup, cita-cita, cinta, dan meraih mimpi. Dikatakan Maudy, proses pembuatan buku ini juga lumayan cukup panjang, yakni sejak dari tahun lalu.

Dara 23 tahun ini menjelaskan, dia sudah mulai gemar menulis sejak dua tahun lalu, sampai terciptalah buku pertamanya dan menulis itu baginya sebuah hal menarik di mana kita bebas menuangkan perasaan yang terjadi dalam diri maupun orang lain yang mungkin bisa menginspirasi orang lain.

“Sudah mulai dari tahun lalu, sudah ngobrol-ngobrol sama Bentang itu sudah cukup lama, ditawarkan project menulis buku juga. Cuma dulu aku masih galau saja kalau mau nulisbuku seperti apa, takutnya kalau nanggung dan setengah-setengah konsepnya juga orang nanti enggak bisa menikmati,” ucap Maudy Ayunda kepada KORAN SINDO seusai peluncuran bukunya di Le Seminyak, Cipete, Jakarta Selatan, belum lama ini.

“Sampai akhirnya ada beberapa brainstorming sessiondan aku semakin jelas bayangannya pengin bikin buku seperti apa dan akhirnya buku ini konsepnya adalah kompilasi cerita-cerita aku, ada auto biografi juga, ada aspek-aspek pemikiran-pemikiran yang kayak esai, quotes, playlistaku, macam-macam,” lanjutnya.

Proyek ini muncul ketika pelantun Perahu Kertasini bertukar pikiran dengan penerbit yang mengetahui bahwa sang penyanyi sudah gemar menulis sejak belia. Ketika masih duduk di bangku SD, pemilik nama lengkap Ayunda Faza Maudya ini bahkan sudah menulis beberapa cerita pendek.

Beruntung, tulisan-tulisannya saat itu ternyata masih disimpan rapi oleh sang ibu. Karya-karya tersebut yang akan jadi sumber cerita untuk buku keduanya yang ditujukan bagi pembaca muda. Selain menulis kisah fiksi anak, Maudy kecil juga senang menulis jurnal harian.

Segala pelajaran yang mengharuskannya untuk menulis esai adalah pelajaran favoritnya.

“Aku suka banget sastra Indonesia, sastra Inggris, sejarah. Aku suka ilmu sosial, aku suka nulisesai atau berargumentasi atau menyampaikan pesan lewat tulisan dan pada akhirnya mama keluarkan arsip yang masih terjaga rapi kira-kira ada lima cerita gitu, yakni seri buku anak based oncerita yang aku tulis pas 10-11 tahun ,” papar Maudy yang punya keinginan merilis sebuah buku serial anak-anak untuk karya selanjutnya.

Dara kelahiran Jakarta, 19 Desember 1994 ini menuturkan bahwa ada sepenggal kisah asmaranya dalam bukunya tersebut meski tidak dituangkannya secara dalam dan luas.

Ini lantaran ia bermaksud juga menceritakan ihwal lain dari kehidupannya, yaitu kariernya dan usahanya meraih mimpi.

“Kisah cinta aku dibahas juga, tapi enggak secara spesifik. Jadi, enggak terlalu banyak kayak aku dan dia, aku dengan orang tuaku, atau aku dengan siapa gitu. Jadi, lebih ke proses aku mengejar mimpi dan proses mencari passiondan jati diri,” ucap dia.

Putri pasangan Muren Murdjoko Jasmedi dan Didit Jasmedi R Irawan ini mengaku bingung ketika harus menentukan isi bukunya yang berbahasa Inggris tersebut.

“Banyak pemikiran yang sebenarnya intinya galau. Ada pengalaman penting yang aku rasa ingin share,” katanya.

Maudy Ayunda membutuhkan waktu tujuh bulan untuk mengerjakan buku itu. Dia mengaku, proses untuk membuat tulisan karyanya menjadi sebuah buku pun bukan hal mudah yang dilakukan karena butuh waktu berbulan-bulan.

Meski banyak revisi, akhirnya buku tersebut bisa dicetak.

“Lumayan panjang mungkin ada kayak dari benar-benar aktif menulisnya sampai printingdan lain-lain ada 6-7 bulan gitudari awal bikin ide sampai nulis. Printing tuh ada dua bulan sendiri gitu kan, jadi prosesnya ada lumayan beberapa stage-nya,” tuturnya.

Sumber : Okezone.com