PENTINGNYA KEYAKINAN DI JALAN DAKWAH

PENTINGNYA KEYAKINAN DI JALAN DAKWAH


Yuana Ryan Tresna
(Peneliti Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat)

Dakwah adalah perjalanan panjang berliku. Manisnya akan terasa ketika seseorang bersabar menjalaninya. Diantara modal penting dalam dakwah adalah keyakinan. Keyakinan ini akan mengobarkan api semangat yang menyala-nyala. Keyakinan akan membuat pengemban dakwah berdiri tegak dan terus maju. Keyakinan tersebut adalah keyakinan akan balasan bagi yang berjuang di jalan dakwah, keyakinan akan jalan perjuangan ini didasarkan kepada manhaj dakwah Rasulullah, keyakinan akan kemenangan bagi dakwah, keyakinan akan kekalahan orang-orang kafir dan nasib buruk penentang dakwah, dan keyakinan akan balasan bagi para pengemban dakwah yang istiqamah dan sabar. Keyakinan tersebut tumbuh karena didasarkan pada dalil yang qath’i (meyakinkan) atau karena didasarkan kepada akidah Islam.

Balasan Agung Bagi yang Berjuang di Jalan Dakwah

Agama adalah nasihat. Diantara wujud nasihat adalah dakwah kepada penguasa (muhasabah) dan umat Islam. Sebagaimana sudah maklum, dakwah merupakan sebaik-baik perkataan dan seruan. Allah Swt berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada ucapan orang yang menyeru manusia kepada (agama) Allah dan beramal salih serta berkata, ‘Aku termasuk orang yang berserah diri’.”  (QS.  Fushshilat: 33).

Sebagaimana pesan hadits Nabi Saw bahwa “al-dîn al-nashîhah” (HR. Muslim dan Abu Dawud), Rasulullah secara khusus telah memuji aktivitas mengoreksi penguasa zhalim, untuk mengoreksi kesalahannya dan menyampaikan kebenaran kepadanya,

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang haq pada pemimpin yang zhalim.” (HR. al-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Thabarani, al-Baihaqi).

Diperjelas lagi hadits lainnya,

سَيِّدُ الشُهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدُ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa zhalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (HR. al-Hakim, al-Thabarani).

Kalimat afdhal al-jihâd dalam hadits pertama merupakan bentuk tafdhîl (pengutamaan), yang menunjukkan secara jelas keutamaan mengoreksi penguasa, menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang berbuat zhalim. Sedangkan dalam hadits yang kedua, orang yang mengoreksi penguasa, lalu dizhalimi dan dibunuh, maka dianugerahi predikat sebagai sayyid al-syuhadâ’ (penghulu mereka yang mati syahid). Kedua kalimat ini jelas merupakan indikasi pujian atas perbuatan mengoreksi penguasa, dalam bentuk ikhbar (pemberitahuan) yang berfaidah wajib. Itu semua menunjukkan bahwa orang yang berdakwah dan berjuangan di jalan Allah, termasuk aktivitas politik untuk mengoreksi penguasa zhalim, akan diganjar oleh Allah Swt dengan balasan yang besar.

Jalan Perjuangan yang Didasarkan kepada Manhaj Dakwah Rasulullah

Rasulullah Saw sejak permulaan dakwah Islam, beliau sudah mendapati tantangan yang demikian keras dari masyarakat Quraisy. Bahkan, dakwah Rasul Saw dan para sahabatnya mendapatkan perlawanan. Berbagai penganiayaan ditimpakan kepada Rasul Saw dan para shahabat beliau. Ini adalah sunatullah.

Dakwah yang benar adalah dakwah yang didasarkan pada manhaj dakwah Rasulullah Saw. Ini adalah prinsip. Allah Swt berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya bagi kalian pada diri Rasulullah Saw itu terdapat teladan yang baik bagi siapa saja yang menginginkan Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab: 21).

Keteladanan yang mencakup metode dakwah untuk menegakkan kehidupan Islam secara totalitas (kaffah). Dengan merujuk pada Sirah Nabawiyah, dapat disimpulkan bahwa thariqah dakwah itu harus melalui jalan umat (an thariq al-ummah), dengan tiga tahapan di dalamnya, yakni: tahapan pembinaan (tatsqif), tahapan interaksi dengan umat (tafa’ul ma’a al-ummah), dan tahapan penyerahan kekuasaan (istilam al-hukm) yang ditandai dengaan penerapan hukum Islam secara menyeluruh dan daakwah ke seluruh penjuru dunia.

Tantangan dakwah Nabi mulai muncul secara nyata pada tahapan kedua. Setelah Nabi Saw dan para shahabat melakukan aktivitas tafa’ul tam (berinteraksi dengan umat secara sempurna), yang ditandai thawaf Nabi Saw dan para shahabat mengelilingi Ka’bah, setelah masuk Islamnya orang-orang kuat di kalangan kafir Quraisy, seperti Hamzah bin ‘Abdul Muthallib dan ‘Umar bin al-Khatthab. Kemudian diikuti dengan aktivitas shira’ al-fikr (perang pemikiran), kifah al-siyasi (perjuangan politik), tabanni mashalih al-ummah (mengadopsi kemaslahatan umat) dan kasyf al-khuthath (membongkar makar jahat penguasa).

Maka, kaum kafir Quraisy memahami benar, bahwa dakwah Nabi Muhammad Saw adalah dakwah pemikiran, yang ingin mengubah pemikiran mereka yang salah. Tapi, mereka juga sadar, bahwa dakwah Nabi Saw juga merupakan dakwah politik, yang akan bisa mengubah pandangan hidup, sikap dan peradaban mereka. Mereka paham, jika ini berhasil, maka kaum mereka akan meninggalkan mereka, dan mengikuti Nabi Muhammad Saw dengan Islam yang diembannya.

Janji Pertolongan dan Kemenangan bagi Dakwah

Kemenangan dakwah adalah suatu keniscayaan. Pertolongan itu ternyata ada pada puncak penderitaan dan kesabaran. Ketika Rasul Saw dan para shahabat mengalami penderitaan, mereka tetap bersabar dan tetap berpegang teguh pada syariah-Nya. Diriwayatkan bahwa karena penderitaan yang luar biasa yang mereka alami, akibat berbagai macam siksaan dan penganiayaan orang-orang kafir, mereka sampai bertanya-tanya kapan pertolongan Allah akan datang. Allah Swt lalu berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang atas kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al-Baqarah: 214).

Karena itu, yang dituntut dari para pengemban dakwah dalam menghadapi semua tantangan, gangguan dan ancaman dalam dakwah adalah meneladani Rasul Saw dan para shahabat beliau. Mereka selalu yakin dengan pertolongan Allah Swt sehingga mereka selalu berkata,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173).

Sesungguhnya cahaya Allah tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh makar manusia. Islam pasti menang. Sesuai janji Allah Swt, sebentar lagi pertolongan-Nya akan segera datang. Islam akan menjadi satu-satunya mabda (ideologi) yang menang atas semua ideologi lain. Allah Swt telah berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Orang-orang kafir itu berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya (agama)-Nya meskipun orang-orang kafir itu membencinya.” (QS at-Taubah: 32).

Kepastian Kekalahan Orang-orang Kafir dan Penentang Dakwah

Para penentang dakwah pada setiap zaman akan senantiasa ada. Allah Swt berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ

“Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin.” (QS. al-An’am: 112).

Imam Jarir al-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ujian yang disebutkan Allah Swt dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah Saw, tetap juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

Di antara upaya menjegal dakwah itu adalah dengan berbagai propaganda atau pemberian stigma negatif baik pada Islam maupun kepada para pejuangnya. Rasulullah Saw dan para shahabat telah mengalami kondisi demikian. Bahkan Rasulullah Saw pernah disebut sebagai orang gila (QS. al-Hijr: 6), tukang sihir (QS. Shad: 4), penyair gila (QS. Shaffat: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya, dsb.

Ajaran Islam juga tak lepas dari berbagai cacian. Al-Quran, misalnya, disebut sebagai ayat-ayat sihir (QS. al-Muddatsir: 24), kumpulan dongeng (QS. al-Muthaffifin: 13); juga dituding sebagai karya orang ‘ajam (non Arab), bukan kalamullah (QS. an-Nahl: 103).

Tantangan para pengemban dakwah pada hari ini pun tak berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh Rasulullah Saw dan para shahabat. Berbagai upaya dilakukan untuk menjegal dan membungkam dakwah, antara lain dengan cara: Pertama, mengkriminalisasi para da’i dengan tuduhan kaum radikal, mengancam kebhinekaan, membawa ajaran yang tidak sesuai budaya lokal, dll.; Kedua, menangkap para pegiat dakwah; Ketiga, mengkriminalisasi ajaran Islam, terutama syariah dan khilafah.

Ketahuilah bahwa para penentang dakwah akan mengalami kehinaan di dunia dan di akhirat. Mereka akan dikalahkan dengan izin Allah Swt. Sebagaimana para penentang dakwah Nabi pada akhirnya dikalahkan. Adapun di akhirat, mereka akan mendapat siksa yang pedih. Allah Swt berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sungguh orang-orang yang menimpakan fitnah kepada kaum Mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. al-Buruj: 10).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sungguh orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Ke dalam Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 36).

Balasan bagi Pengemban Dakwah yang Istiqamah dan Sabar

Orang yang istiqamah dan sabar di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan banyak keutamaan. Allah Swt telah menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas di dalam al-Quran dan al-Hadits. Diantara ayat-ayat yang berbicara tentang keutamaan istiqamah adalah ayat berikut ini,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (QS. Fushshilat: 30).

Ayat di atas dan ayat lainnya  (seperti QS. Fushshilat: 31-32 dan QS. al-Ahqaf: 13) menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwasanya orang yang istiqamah di jalan Allah akan memperoleh banyak keutamaan, diantara keutamaan tersebut adalah: Pertama, Allah akan menurunkan malaikat kepada orang-orang yang beriman dan beristiqamah di jalan Allah. Malaikat tersebut menghibur dengan ucapan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, juz 15, hlm. 358); Kedua, malaikat akan menjadi penolong (wali) orang yang istiqamah di kehidupan dunia dan akhirat. Menurut Mujahid, malaikat akan menjadi sekutu orang-orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan kelak di akhirat, malaikat itu tidak akan berpisah dengan orang tersebut hingga ia masuk ke dalam surganya Allah. Al-Sudi menyatakan, malaikat akan menjadi penjaga amal orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan penolong di hari akhir. (Imam Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, juz 15, hlm. 360).

Demikian juga dengan sabar. Rasulullah Saw, bersabda,

إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ.

“Jika seorang muslim berinteraksi dengan masyarakat, lalu Ia bersabar dari perlakuan buruk masyarakat terhadapnya (dalam dakwah), hal itu adalah lebih baik, daripada seorang muslim yang tidak mau berinteraksi dan tidak bersabar dari perlakuan buruk masyarakat.” (HR. al-Tirmidzi).

Imam al-Shan’ani menjelaskan, “Hadits tersebut menjelaskan keutamaan bagi orang yang berinteraksi, menyeru masyarakat kepada kema’rufan, mencegar kemunkaran, dan memperbaiki sistem sosial mereka. Hal demikian itu, lebih baik ketimbang orang yang menyendiri dan tidak mau bersabar dalam berinteraksi.” (al-Shan’ani, Subulus Salam, V/245).

Al-Hafizh al-Munawi berkata, “Kesabaran yang paling besar adalah, sabar berinteraksi dengan masyarakat dan menahan semua perlakuan buruk mereka. (al-Munawi, Faidh al-Qadir, VI/332).

Bahkan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata,

والصابر أعظم أجرا من المنفق لأنّ حسنته مضاعفة إلى سبعمائة

“Orang sabar mendapat pahala lebih besar dari orang yang suka berinfak, karena kebaikan orang sabar dilipat gandakan menjadi 700 kebaikan.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, XVII /274).

Demikianlah pentingnya keyakinan di jalan dakwah. Umat Islam sesungguhnya memiliki modal yang luar biasa untuk menghadapi semua tantangan dan halangan dakwah Islam, yaitu modal keimanan. Mereka mengimani tujuan keberadaan mereka di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt (Lihat QS. al-Dzariyat: 56). Wallahu a’lam.